Pengakuan emosi terpendam

M E N G A K U

By Yunus Anis

Kita itu suka ga sadar kalau sedang menyimpan sebal, kecewa, marah, dll…

Tahu-tahu dada rasanya nyesek aja… trus kesehatan ngedrop. Males juga mau ngapa-ngapain…

Ini namanya me-repress. Menutupi kekesalan dengan kalimat-kalimat positif atau memaksakan diri untuk melakukan yang baik padahal sesungguhnya berat dan jadi beban di hati.

Apa salah memaksakan diri berbuat baik?

Ini bukan soal benar dan salah. Ini tentang berkecamuknya perasaan. Perang batin antara “keharusan” berbuat baik dengan diri yang berontak menolak.

Jadi harus gimana?

Ngaku aja… Ngaku bahwa diri merasa kesal, jengkel, marah, sebel, atau sedih. Ngaku ke diri sendiri dulu ya.. jangan ke orang yang disebelin. Bisa berabe hehee….

Ngaku ke diri sendiri, dan ke Allah…

“Hamba ikhlas ya Allah mengakui bahwa hamba merasa sedih… hamba menerima perasaan sedih ini ya Allah… hamba ijinkan hadir perasaan sedih ini, hamba IKHLAS MENERIMANYA dan hamba PASRAHKAN KEDAMAIAN hatiku padaMu…”

Trus?

Udah gitu aja…

InsyaaAllah kalau sudah MENGAKU LEMAH pada diri sendiri dan pada ALLAH hati akan terasa lebih ringan. Apalagi ditambah TAWAKAL pada Allah… insyaaAllah, Allah turunkan pertolonganNya

Laa hawla wa Laa quwwata illa billah…

=====================================

Yuk belajar bareng PPA for Healing di kota terdekat anda… IMG-20181230-WA0013.jpg

Setiap Peserta PPA for Healing Dapat Voucher umrah sebesar 2.000.000 berlaku sampai 31 Desember 2019.

Biaya Umum 2,2 Juta

Alumni PPA 1,7 Juta

Info: Yuri 0813129198352

Iklan

Saat Engkau Khianati Janji Suci Ini

Saat pernikahan disebut sebagai penyempurna setengaah agama, mungkin inilah salah satu yang jadi alasannya. Dalam pernikahan, dibutuhkan adanya komunikasi yang intens antara suami-istri. Cara yang paling tepat untuk membangun komunikasi itu adalah dengan hidup bersama, tidak terpi!sah di tempat/kota yang berbeda. Karena saat tinggal terpisah, akan ada rasa sepi di saat-saat tertentu. Keadaan ini dapat menjadi celah masuknya pihak ketiga yang harusnya tidak boleh ada dalam pernikahan. Mungkin awalnya pihak ketiga ini hanya seorang teman lama yang bernostalgia masa sekolah lewat media sosial, namun jika nostalgia itu berlangsung hampir tiap hari, maka akan membuat dua orang teman ini terhanyut dalam kenyamanan sendiri dan mulai lupa bahwa salah satu dari mereka telah memiliki pasangan sah.

Darisini keimanan itu mulai diuji. Yang awalnya alim saja masih mungkin terlena, apalagi yang imannya di tepi sungai, tentu lebih mudah untuk jatuh da tenggelam dalam  asiknya bercengkrama mesra dengan orang yang tidak halal baginya. Awalnya mungkin hanya lewat ada medsos, kemudian merasa butuh untuk kopdar. Apa yang dilakukan saat kopdar??? Apapun bisa terjadi, apalagi saat iman mulai lepas dari hati dan akal, maka nafsu syahwatlah yang bekerja. Na’udzubillah min dzalik!

Dan pasangan halal pun tak lagi jd prioritas utama, lbh mengharapkan datangnya telpon/sms/bbm dari “teman lama” ketimbang dari pasangan halalnya. Dan di saat yang sama tapi dari tempat lain, sang pasangan mulai merasakan  ada rutinitas yang berbeda dari belahan jiwanya. Timbullah keresahan, kecurigaan, dan prasangka buruk lainnya.

Sikap awal yang ditampakkan untuk meredam prasangka-prasangka itu mungkin adalah berusaha positif thinking.  Tapi kalo sang belahan jiwa makin terasa jauh, adakalanya perlu melakukan investigasi lanjut, timbul curiga, kepercayaan yang selama ini digenggam mulai luruh.

Hingga akhirnya dengan caraNya, Allah buka tabir pengkhianatan yang dilakukan sang belahan jiwa. Sakit???? Kecewa??? Merasa dikhianati??? Marah???? Semua adalah reaksi awal yang wajar. Apa yang selanjutnya harus dilakukan??? Inilah yang akan menunjukkan kualitas iman seorang istri/suami yang cinta dan kepercayaannya telah dikhianati.

Pernikahan mempertemukan dua insan yg berbeda isi pikirannya, berbeda latar belakang adat budaya, berbeda karakter, dan perbedaan2 lain. Pernikahan adalah adaptasi dan pembelajaran terus menerus, pernikahan adalah ujian iman, kesabaran, kebijaksanaan, kesetiaan, kepercayaan, amanah, ….

Saat bukti pengkhianatan pasangan tergambar nyata, dunia seakan runtuh tuh tuh. Logika seakan tidak mampu mencerna. Bagaimana tidak, orang yg selama ini dihormati, dijunjung, dinomorsatukan, dilayani dg sebaik-baiknya, dibela meski saat salah, tega menyakiti. Seolah-olah lupa dengan semua yg sudah diberikan oleh pasangannya.

Hanya saja, segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Ada hikmah yg ingin Allah tunjukkan dg kejadian buruk semacam ini. Hikmah kesabaran, hikmah iman, hikmah ketaatan, hikmah terhapusnya dosa2 masa lalu, krn sakitnya kaki yg tertusuk duri saja, ada ampunan Allah di sana atas dosa2 hambaNya. Mungkin selama ini ada sifat takabur, kurang bersyukur, ibadah yg kurang ikhlas, atau keburukan-keburukan lain yg sengaja/tidak sengaja kita perbuat.

Maka selanjutnya, yg harus dilakukan adalah introspeksi diri dr kesalahan2 yang telah kita perbuat pada pasangan, pada orangtua, terutama pada Sang Khaliq. Lalu memperbaiki diri, memperbaiki kualitas ibadah, memperbaiki perlakuan terhadap pasangan,memperbaiki hubungan dg keluarga. Yg tidak kalah penting, bicara dari hati ke hati dg pasangan, mencari tau sebab pengkhianatan dan mencari solusi agar tidak ada kejadian yg sama di waktu berikutnya.

Toleransi????

bismillahirrahmaanirrahiim

lagi momen liburan ni. ya libur semester, ya libur natal, ya libur akhir tahun. kalo sudah begini, mall dan tempat wisata yang paling rame. hampir di semua tempat itu kompak untuk menggunakan kostum sesuai momen. kalo liburan sekolah, susah direpresentasikan dengan tema dan kostum yang pas, tapi kalo natal, macam-macam dekorasi dan kostum muncul.

padahal kalo kita pikir, tidak semua pengunjung mall atau tempat wisata yang rayakan natal, tp kenapa seolah-olah mereka diajak serta memeringatinya??? apalagi para pegawai di tempat-tempat tersebut jg tidak semua merayakan natal, tp mereka dituntut menggunakan atribut momen itu. secara tidak langsung, pegawai muslim didorong untuk mengakui akidah yang diusung dalam natal tersebut.

banyak yang beranggapan itu adalah bentuk toleransi beragama. meski Allah sudah secara jelas memberi batasan tentang toleransi. lakum diinukum wa liyadiin. untukmu agamu dan untukku agamaku. artinya yang nashrani kalo natalan, ya natalan aja tanpa ada tuntutan melakukan hal yang pada pemeluk agama lain, terutama muslim.

Mimpi Buruk di Siang Bolong

Astaghfirullahal’adzim…

Saat ku rasa tak ada semangat tuk lakukan aktifitas apapun di hari minggu ini, ku pilih tuk tidur.  Mungkin lebih tepatnya baring baring di kamar sambil online. Tak terasa aku pun tertidur.

Ku kaget saat terjadi hal buruk di depan mata. Hal buruk yang seolah-olah menggambarkan gundah hatiku saat ini. Subhanallah

Ya Rabb… kenapa harus terjadi??? Sungguh menyakitkan hati! Akhirnya ku terbangun. Dan ku sadar bahwa itu hanya mimpi. Ku lihat hp ku, menunjukkan jam 10.50.

Yaa Rabb, aku berlindung padaMU dari apa yag terjadi dalam mimpiku tadi. Lindungilah aku dari bisikan jahat syaithan lewat mimpi yang dapat jerumuskan aku pada tindakan yang salah.

Setiap apa menimpaku saat ini, aku yakin KAU akan beri jalan keluar terbaik. Sungguh padaMU aku berpasrah.

Kebaikan di Balik Musibah

Bismillahirrohmaanirrohim

Saat cobaan berupa sakit dan kesedihan menimpa, seringkali melenyapkan segala gairah hidup dengan seketika. Hilang senyum, hilang energi, hilang  harapan, dan yang berkuasa adalah pikiran-pikiran buruk, pesimistis, dan semua bentuk gambaran negatif tentang hidup.

Padahal Allah swt sendiri telah mengingatkan bahwa boleh jadi sesuatu yg kita sukai membawa keburukan bagi kita dan sebaliknya, boleh jadi sesuatu yang yang kita tidak suka malah membawa kebaikan bagi kita.

Musibah adalah peristiwa yang tidak diharapkan oleh hampir semua orang. Tapi apabila kita kembali pada peringatan Allah di atas, maka sebenarnya di balik musibah itu akan datang kebaikan yang, insyaAllah lebih besar dari musibah tadi.

Sangat manusiawi kalau setiap orang pada awalnya akan bersedih bila ditimpa musibah atau hal yang tak diharapkannya. Tapi sampai kapankah kesedihan itu berlangsung????

jika kita mau memahami hikmah besar dan kebaikan yang datang setelah musibah itu, maka cukuplah kesedihan itu kita rasa sesaat saja. Selanjutnya, kita hanya perlu menunggu dan mencari kebaikan yang akan kita dapat setelahnya. Maka sikap yang paling manusiawi adalah selalu berpikir positif terhadap apa yang Allah takdirkan pada kita. SESUNGGUHNYA ALLAH SESUAI DENGAN PRASANGKA KITA

Berbaiksangka pada setiap takdir Allah, maka insyaAllah hanya kebaikan yang pada akhirnya kita raih.